Selasa, 15 November 2011

Save Orang utan

Baru-baru ini saya menonton tayangan berita yang mengabarkan adanya penganiayaan pada hewan dilindungi tepatnya orang utan. Melihat berita tersebut sangat miris sekali hati ini, walaupun saya bukan pecinta binatang saya tetap sedih akan peristiwa tersebut. Menurut saya penganiayaan terhadap hewan apalagi yang dilindungi tersebut sangat tidak manusiawi, walaupun hewan tidak bisa bicara tapi mereka itu bernyawa dan bisa merasakan sakit. Sayangnya orang utan di daerah tempat penganiayaan tersebut mengatakan bahwa orang utan adalah hama, padahal perkebunan sawit itulah yang menurut saya telah mengambil lahan habitat orang utan. Pada tanggal 3 november lalu COP menemukan adanya bukti penyiksaan pada orang utan. Menurut berita yang saya dapat dari spektrumdunia.blogspot.com



COP menemukan satu orangutan dewasa pada 3 November lalu dengan kondisi yang mengenaskan, sekujur tubuhnya terluka parah akibat disiksa dan dianiaya di sebuah perkebunan kelapa sawit perusahaan berinisial KAM yang anak usaha perusahaan berinisial MKH dari Malaysia.
Perkebunan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Wajah orangutan tersebut bengkak dan berlumuran darah, kemungkinan dipukuli dengan benda tumpul. Hewan itu hanya terduduk di parit kering sebelah jalan utama di perkebunan karena terlalu lemah untuk bergerak.

“Kemungkinan besar mengalami patah tulang,” demikian siaran pers COP. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dari Kementerian Kehutanan kemudian mentranslokasikan orangutan sakit tersebut ke Taman Nasional Kutai.

Menanggapi gencarnya publikasi media mengenai pembantaian orangutan di Muara Kaman, lanjut COP, BKSDA setempat terus mengadakan penyelidikan, terutama pada perusahaan-perusahaan yang berada di Muara Kaman (empat perusahaan dan satu HTI).

Hingga hari ini belum ada satupun yang bisa dijadikan tersangka karena kurangnya bukti dan saksi. Pada 29 Oktober, Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT) Unversitas Mulawarman Samarinda merekonstruksi satu kerangka orangutan yang diserahkan masyarakat tidari kawasan perkebunan PT tersebut.

Bukti ini melengkapi foto-foto pembantaian orangutan yang disebarkan oleh mantan karyawan yang sakit hati terhadap perusahaan kelapa sawit asal Malaysia tersebut. Hardi Baktiantoro, juru kampanye COP menyatakan orangutan yang terluka parah merupakan bukti nyata di depan mata.

“Saksi juga ada. BKSDA hendaknya menyidik manajemen PT tersebut. Ini kejahatan serius menurut UU nomor 5/1990 mengenai Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. BKSDA hendaknya bertindak proaktif. Penegakan hukum bisa dijalankan tanpa harus menunggu adanya pelapor,” paparnya.

Kondisi orangutan yang 90% populasi dunianya berada di Indonesia, mengkhawatirkan berbagai kalangan internasional.

Semoga pihak yang terkait maupun masyarakat semakin perduli dan turut serta dalam menjaga satwa-satwa langka dari kepunahan.
(source: http://spektrumdunia.blogspot.com/2011/11/ditemukan-bukti-penyiksaan-dan.html)

Satwa langka haruslah dilindungi sehingga pada masa yang akan datang satwa-satwa tersebut tetap eksis di tempatnya. Jangan sampai hal seperti ini terulang sehingga indonesia di cap sebagai negara yang tidak dapat melindungi satwanya sebagai kekayaan alam. Dukungan para pengguna social network seperti twitter pun banyak berkomentar tentang hal ini dengan menggunakan hastag #saveorangutan atau #prayorangutan. Semoga dengan adanya pemberitaan seperti ini pemerintah dapat lebih baik lagi dalam menjaga kekayaan flora dan faunanya.

Badak Jawa Sudah Mulai Punah Di Vietnam

WWF Internasional memberi pernyataan badak jawa yang ada di Vietnam sudah musnah. Secara resmi tidak ada satu badak pun di Vietnam.

Badak jawa di Vietnam terakhir dibunuh oleh pemburu pada April 2010. Saat itu, peneliti memperkirakan masih tersisa sekitar delapan ekor di Vietnam. Ternyata dugaan tersebut meleset. Berdasar analisis genetik dari 22 sampel feses yang dikumpulkan oleh tim survei WWF pada 2009 dan 2010, terungkap feses itu berasal dari satu badak saja, yaitu badak yang sama yang ditembak oleh pemburu.
Sesungguhnya, badak jawa di Vietnam sempat dinyatakan punah sejak 50 tahun lalu. Namun di tahun 1988 terdapat bukti keberadaannya saat seorang pemburu berhasil membunuh seekor badak. Pemerhati lingkungan begitu gembira karena hewan langka ini ternyata masih ada.

Camera trap pun dipasang di beberapa titik hutan habitat badak tersebut, dan sempat mendapatkan beberapa gambar badak. Hingga akhirnya hilang sama sekali, ketika peneliti menemukan bukti badak terakhir telah dibunuh pemburu.

Semua spesies badak yang ada di dunia sangat terancam oleh perburuan liar. Pasaran harga cula yang tinggi, bisa mencapai US$ 30.000 per buah menjadi penyebab para pemburu terus membunuh tanpa perasaan. Cula badak dicari orang karena menjadi obat tradisional Asia yang mitosnya sangat manjur menyembuhkan beragam penyakit.
Keluarga badak jawa

Badak Jawa tidak hanya berada di Pulau Jawa saja, melainkan tersebar ke beberapa wilayah di Asia. Tercatat, penyebarannya hingga seluruh Nusantara, sepanjang Asia Tenggara, India dan dataran Tiongkok.

Badak jawa disebut juga badak bercula-satu kecil (Rhinoceros sondaicus annamiticus), masuk ke genus yang sama dengan badak india dan memiliki kulit bermosaik yang menyerupai baju baja.

Ukuran tubuhnya lebih kecil dibanding badak india dan Afrika. Panjang sekitar 3,1–3,2 m dan tinggi 1,4–1,7 m. Ukuran culanya biasanya lebih sedikit daripada 20 cm, lebih kecil daripada cula spesies badak lainnya.

Menurut Eric Dinerstein dalam bukunya The Return of the Unicorns; The Natural History and Conservation of the Greater One-Horned Rhinoceros (2003), badak jawa kemungkinan besar adalah mamalia terlangka di bumi.

Pendapat tersebut diperkuat oleh kenyataan yang ada. Badak jawa yang hidup di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) tinggal tersisa sekitar 50 badak saja. Keberadaannya semakin rentan terhadap kepunahan karena berbagai penyebab yaitu:

1. Lokasi terlalu dekat Gunung Krakatau. Bila meletus, badak jawa di Ujung Kulon terancam musnah.
2. Bencana alam seperti gempa dan tsunami juga menjadi ancaman.
3. Ruang jelajah badak jawa di tempat ini terbatas karena harus berkompetisi dengan banteng.

WWF berupaya mencari 'rumah kedua' bagi badak jawa. Dari identifikasi terakhir, habitat yang cocok dan aman adalah Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa Barat, yang dulu juga merupakan habitat badak Jawa. Tinggal menunggu penelitian lebih lanjut apakah mungkin badak jawa di TNUK dipindahkan ke Halimun untuk keberlangsungan populasi mereka.

Ayo selamatkan badak jawa!

SOURCE: http://www.apakabardunia.com/2011/11/badak-jawa-sudah-punah-di-vietnam.html
 .

Minggu, 13 November 2011

MANUSIA DAN TANGGUNGJAWAB


Tanggung jawab menurut kamus umum Bahasa Indonesia adalah, keadaan wajib menanggung segala sesuatunya.Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak di sengaja. Tangung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.

Manusia sangat berhubungan dengan tanggung jawab. Tanggungjwab sangat berhubungan erat dengan manusia karena dalam hidup setiap manusia akan mengambil keputusan yang memiliki resiko yang harus dipertanggungjawabkan. Setiap resiko yang diterima manusian tergantung dari perbuatan yang ia lakukan jika ia mengambil keputusan untuk hal yang baik pastilah ia akan mendapat hal yang baik, lain lagi jika seorang manusia mengambil keputusan untuk hal yang bersifat negatif, misalkan orang yang sedang kesusahan dalam hal keuangan lebih memilih mencuri daripada mencari solusi lain untuk menyelesaikan masalahnya. Keputusan orang tersebut akan memberi orang tersebut resiko yang besar dan tentu saja jika ia tertangkap pastilah orang tersebut harus mempertanggungjawabkan perbuatannya pada pihak yang berwajib. Contoh tersebut merupakan tanggung jawab dari sebuah perbuatan atau resiko yant telah diambil seseorang. Namun tanggungjawab juga dapat diperlihatkan melalui hasil yang telah kita kerjakan seperti contoh seorang mahasiswa yang telah diberi tugas oleh dosennya. Ia mengerjakan tugas tersebut dengan sungguh-sungguh. Setelah pekerjaannya tersebut ia akan memngumpulkan tugasnya tersebut dengan tepat waktu, Hasil tugas yang diberikan kepada dosennya itulah bentuk pertanggungjawabannya. maka dari itu kita harus berpikir dahulu sebelum mengambil keputusan agar tanggungjawab yang kita terima sesuai dengan kemampuan kita.








 (source: Kamus Besar Bahasa Indonesia)